Wedang Ronde Prapatan Kebondalem

Wedang Ronde
Wedang Ronde siap saji
Bloggerkendal.com – Biasanya
kalau mau balik ketemu sama ibu, saya beli-beli cemilan gitu. Biar ibu ngemil
banyak terus tambah endut, secara saya sama ibu badannya sama-sama tipis,
hahaha … Karena jalur Kendal masih macet, perbaikan jalan. Eh ketemu sama
wedang ronde di perempatan Kebondalem, Kendal. Jadilah beli dua bungkus
oleh-oleh untuk ibu.
Yang
jualan masih muda, namanya mbak Mus.

“Mustofiah,”
ucap dia kemudian setelah saya tanya siapa namanya.

“Sudah
enam tahun saya jaga,” ceritanya dengan senyuman ramah. Saya kaget, enam
tahun? Busyet … udah lama banget yak! “bosnya rumahnya perumahan stadion
situ mba,” lanjutnya lagi.
“Oh
situ, mayan deket ya”.

“Nah
rumah depan situ mba, deket kok. Tinggal jalan,” jawabnya santai sembari
membungkus pesanan saya.
Wedang
ronde perempatan Kebondalem itu ada di sisi kanan jalan, kalau kita dari arah
Semarang. Harganya juga murah, kalau hot Rp 5 rb, kalau ice Rp 6 rb. Campuran
yang dipakai juga seperti wedang ronde pada umumnya, ada agar-agar, kacang,
koang-kaling dan tepung ketan yang sudah dibentuk bulat.

Saya
suka banget sama aroma air jahe pada wedang ronde. Katanya kalau merebus air
jahe untuk wedang ronde, sebaiknya menggunakan api kecil sampai mendidih.
Aromanya lebih sedap.

Wedang Ronde
Booth Wedang Ronde

Legenda wedang ronde berasal dari Dinasti Han
Konon
dulu jaman kerajaan dinasti Han, ada dayang yang merindukan orang tuanya.
Kerjaannya tiap hari menangis dan ingin bunuh diri. Menteri yang tahu hal
tersebut, berjanji akan menolong dayang itu, namun dia harus membuat
tangyuan/tongyuan/ronde bulat sebanyak-banyaknya untuk persembahan dewa. Yang
pada akhirnya membuat kaisar puas, diijinkanlah si dayang bertemu dengan
orangtuanya. Dan semenjak tanggal 15 bulan 1 penanggalan imlek tersebut,s elalu
diadakan festival lampion. Di mana seluruh keluarga berkumpul, menikmati
tongyuan sebagai minuman andalannya.

Enaknya menikmati ronde pada musim dingin
Jadi
waktu saya jadi tenaga kerja Indonesia, yang kerja di Hongkong. Ronde juga
menjadi minuman khas yang dinikmati saat musim dingin. Disajikan dengan panas,
setelah selesai makan malam. Minum ronde bebas sebenarnya, tidak harus menunggu
ada acara festival lampion saja. Biasanya majikan saya membeli kemasan
bulatnya, jadi saya tidak perlu meraciknya. Hanya perlu membuatkan air jahenya,
lantas saya mencoba membuat sendiri dan ternyata mudah sekali. Saya sajikan
waktu itu untuk majikan saya.


“Liti hai Yan nei ke tongyuan, ini adalah
ronde khas Indonesia”, kata saya waktu itu. Dia antusias dan mencobanya.

“Hou me to, rasanya
enak”, pujinya kepada saya.
Ternyata
saya masih bisa berbahasa kanton ya, hahah … Yah semacam sedang bernostalgia.
Tapi sampai sekarang pun saya masih suka membeli wedang ronde. Ibu saya
menyukainya, mungkin kapan-kapan saya akan membuatkannya untuk ibu. Soalnya
semenjak kost di Kaliwungu, saya hampir nggak pernah memegang alat-alat dapur.
Di kostan ada dapur sebenarnya, tetapi gegara yang ngekost pada kurang
bersihan. Saya nggak pernah make dapur kost, agak risih hehehe.

 

Wedang Ronde
Posisi wedang ronde dari arah Semarang, kalau lewat jalan tembus Kebondalem

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *